Kenalan dengan SSH, Cara Aman Mengakses Server dari Mana Saja!

Okta Reyna Dwitanaya

Posted: Agustus 31, 2026

9 Menit Waktu Baca

ssh adalah

SSH adalah salah satu cara yang umum digunakan developer dan SysAdmin untuk mengakses dan mengelola server dari jarak jauh.

Singkatnya, SSH adalah protokol yang bantu kamu mengakses server dari jarak jauh atau secara remote. Dengan begitu, pekerjaan kamu bisa lebih cepat selesai dan data juga jadi lebih aman.

Makanya, buat kamu yang baru terjun di dunia Dev dan server, kamu wajib kenal dengan SSH ini.

Jadi, apa sih SSH itu? Kapan kamu perlu pakai SSH dan gimana cara pakainya?

Yuk, kita bahas satu-satu di artikel ini.

Apa Itu SSH?

SSH atau Secure Shell adalah sebuah protokol untuk mengatur dan mengakses server secara remote lewat jaringan yang terenkripsi.

SSH umum digunakan untuk administrasi server karena bisa mengenkripsi koneksi dan menyediakan mekanisme autentikasi.

SSH bekerja dengan membuat koneksi yang aman antara perangkat pengguna (client) dan server tujuan. Setelah berhasil terhubung, kamu bisa mendapatkan akses ke shell di server untuk menjalankan command, mengubah konfigurasi, memantau sistem, dan melakukan pekerjaan administrasi lainnya.

Selain akses shell, SSH juga mendukung berbagai kebutuhan seperti transfer file dan tunneling. Protokol ini umumnya menggunakan TCP port 22 sebagai port default, meskipun administrator dapat mengubahnya sesuai kebutuhan keamanan dan konfigurasi server.

Kalau SSH adalah istilah baru buat kamu, coba kita bahas beberapa istilah yang berkaitan dengan SSH supaya tidak ada miskonsepsi. Ketika bahas SSH kamu perlu tahu apa itu, Shell, Terminal, dan OpenSSH.

Penjelasan singkatnya seperti ini:

  • Shell: interface untuk memberi perintah ke OS.
  • Terminal: tempat kamu membuka/menggunakan shell.
  • SSH: protokol untuk mengakses shell di komputer/server lain secara remote.
  • OpenSSH: tools/software yang mengimplementasikan SSH.

Jadi, contohnya adalah kamu membuka terminal, kemudian menjalankan SSH. Dari sini, kamu akan terhubung ke shell di server dan bisa menjalankan berbagai command.

Komponen SSH

Setelah memahami istilah dasarnya, berikut beberapa bagian yang terlibat ketika kamu membuat koneksi SSH.

  • SSH Client

SSH Client adalah software yang digunakan untuk membuat koneksi ke SSH Server. Kamu biasanya menjalankannya melalui terminal di laptop atau komputer. OpenSSH merupakan salah satu contoh software yang menyediakan SSH Client.

  • SSH Server

SSH Server adalah service yang berjalan di server dan bertugas menerima koneksi dari SSH Client. Setelah menerima koneksi, server akan memproses permintaan login dan memberikan akses sesuai dengan izin pengguna.

  • Public Key

Public Key adalah salah satu bagian dari pasangan SSH Key yang digunakan untuk proses autentikasi. Public Key bisa disimpan di server untuk membantu memverifikasi identitas pengguna.

  • Private Key

Private Key adalah pasangan dari Public Key yang disimpan di perangkat pengguna. Kunci ini harus dijaga kerahasiaannya karena digunakan untuk membuktikan identitas pengguna saat melakukan autentikasi.

  • SSH Daemon (sshd)

SSH Daemon atau sshd adalah program yang berjalan di server untuk menerima dan menangani koneksi SSH. Pada sistem Linux, sshd berjalan sebagai service dan membuat server siap menerima koneksi dari SSH Client.

Fungsi SSH

Agar lebih jelas fungsi dari SSH, ayo kita bahas satu per satu:

1. Remote Server

Fungsi paling umum dari SSH adalah mengakses server secara remote. Sebagai developer atau administrator, kamu bisa login ke VPS, cloud server, atau dedicated server dari laptop tanpa harus berada di lokasi fisik server. Setelah login, kamu bisa mengelola sistem dari mana saja seperti sedang berada di terminal server.

2. Transfer File

SSH juga bisa digunakan untuk memindahkan file dengan aman. Teknologi seperti SCP (Secure Copy Protocol) dan SFTP (SSH File Transfer Protocol) menggunakan koneksi SSH untuk mengirim atau mengambil file dari server. Metode ini berguna untuk deployment aplikasi, backup, serta pertukaran file yang membutuhkan perlindungan selama proses transfer.

3. Remote Command

Tidak semua pekerjaan butuh sesi terminal interaktif. SSH bisa menjalankan perintah tertentu secara langsung dari client. Misalnya saja, administrator bisa mengecek penggunaan disk, menjalankan script, atau me-restart service tanpa harus membuka sesi shell yang panjang.

4. Port Forwarding

Kamu bisa meneruskan koneksi dari satu port ke port lain melalui koneksi SSH dengan fitur ini. Jadi, kamu tetap bisa mengakses service internal tanpa membukanya untuk akses publik. Cara ini bisa bantu menjaga server kamu tetap aman.

5. Tunneling

Dengan tunneling, kamu bisa membuat jalur aman antara perangkat kamu dan server melalui koneksi SSH. Dengan jalur ini, kamu bisa mengakses resource atau service yang tidak terbuka untuk publik dengan lebih aman. Fitur ini biasanya digunakan untuk keperluan troubleshooting, mengakses database, atau mengakses service internal.

Bagaimana Cara Kerja SSH?

Jika dibuat alurnya, cara kerja SSH akan terlihat seperti ini:

Client → Internet → SSH Server → Authentication → Encryption → Shell

Jadi, kamu sebagai client mengakses SSH Server melalui internet. Client kemudian berkomunikasi dengan SSH Server untuk membangun koneksi yang aman, termasuk proses enkripsi dan autentikasi. Setelah proses tersebut berhasil, kamu bisa mengakses shell di server

Supaya lebih jelas, kamu bisa memahaminya dari penjelasan berikut:

1. SSH Client

SSH Client menghubungkan kamu ke server melalui SSH. Kamu bisa menjalankannya melalui terminal di perangkat seperti laptop atau komputer. Salah satu contoh SSH Client yang umum digunakan adalah OpenSSH.

2. SSH Server

SSH Server adalah service yang berjalan di server dan bertugas menerima koneksi dari SSH Client. Ketika kamu mencoba terhubung, SSH Server akan menerima request tersebut dan kemudian memprosesnya.

3. Default Port 22

Secara default, SSH menggunakan TCP port 22 sebagai jalur untuk menerima koneksi. Jadi, ketika kamu menjalankan SSH tanpa menentukan port lain, koneksi akan secara otomatis diarahkan ke port 22 ini.

4. Proses Authentication

Setelah terhubung, server perlu memastikan bahwa kamu memang memiliki izin untuk mengaksesnya. Proses ini disebut authentication dan bisa dilakukan menggunakan password, SSH key, atau metode tambahan seperti MFA.

5. Enkripsi Data

Setelah koneksi terbentuk, SSH mengenkripsi data yang dikirim antara perangkat kamu dan server. Dengan begitu, orang lain yang mencoba mengintip koneksi tersebut tidak bisa dengan mudah membaca informasi yang sedang dikirim.

6. Pembuatan Sesi

Setelah proses authentication berhasil, SSH membuat sesi antara perangkat kamu dan server. Dari sini, kamu bisa mengakses shell dan menjalankan berbagai command di server. Sesi akan berakhir ketika kamu logout atau koneksi ditutup.

Metode Autentikasi SSH

Dalam menciptakan koneksi yang aman, kamu bisa menggunakan beberapa metode autentikasi ini pada SSH:

  • Password Authentication

Metode ini menggunakan username dan password untuk memverifikasi pengguna. Cara ini mudah diterapkan, tapi kalau password yang kamu gunakan lemah atau sudah kamu gunakan berulang maka bisa meningkatkan risiko serangan seperti brute force.

  • SSH Key Authentication

Metode ini menggunakan pasangan public key dan private key. Public key disimpan di server, sedangkan private key tetap berada pada perangkat pengguna. Cara ini adalah pilihan tepat untuk autentikasi server karena private key tidak perlu dikirim ke server saat proses login.

  • Multi Factor Authentication (MFA)

MFA menambahkan faktor autentikasi lain setelah kredensial utama diverifikasi. Misalnya, kamu diminta memasukkan kode dari aplikasi authenticator. Dengan lapisan tambahan ini, kompromi pada satu faktor saja tidak otomatis memberikan akses ke server.

Kelebihan SSH Dibanding Telnet

Sama dengan SSH, Telnet adalah metode untuk mengakses server secara remote. Telnet diciptakan pada awal pengembangan internet dan banyak digunakan dalam lingkungan jaringan yang lebih terbatas dibandingkan internet modern.

Berbeda dengan SSH, Telnet tidak dilengkapi dengan enkripsi jaringan. Pada masa itu, jaringan ke server masih bisa terbilang aman karena dianggap sebagai jaringan internal.

Tapi seiring dengan cepatnya perkembangan internet dan kompleksitas ancaman siber, SSH hadir sebagai solusi yang lebih aman untuk digunakan.

Perbedaan paling penting antara keduanya terletak pada cara data dikirimkan. Telnet mengirimkan data tanpa enkripsi, sehingga username, password, dan command yang dikirim melalui koneksi dapat berisiko dibaca jika jaringan disadap. Sementara itu, SSH mengenkripsi komunikasi antara client dan server sehingga informasi yang dikirim lebih terlindungi.

Selain enkripsi, SSH juga menyediakan beberapa metode autentikasi, seperti password dan SSH key. SSH juga memiliki mekanisme untuk menjaga integritas data selama proses komunikasi.

Supaya bisa tahu perbedaan antara SSH dan Telnet lebih jelas, kamu bisa melihat tabel berikut ini:

Fitur SSH Telnet
Encryption Data terenkripsi Data dikirim tanpa enkripsi
Authentication Password, key, dan metode tambahan Umumnya username dan password
Security Tinggi dengan konfigurasi yang tepat Rendah
Data Integrity Memiliki perlindungan integritas Tidak menyediakan perlindungan yang setara

Apa yang Membuat SSH Lebih Aman?

Secara umum, beberapa hal yang membuat SSH lebih aman digunakan antara lain:

  • Encryption: SSH mengenkripsi komunikasi antara client dan server sehingga data yang dikirim tidak mudah dibaca jika koneksi disadap.
  • Authentication: SSH mendukung beberapa metode autentikasi, seperti password dan SSH key, untuk memastikan hanya pengguna yang memiliki akses yang bisa login.
  • Security: SSH dapat diperkuat dengan konfigurasi seperti firewall, pembatasan akses, dan menonaktifkan root login.
  • Data Integrity: SSH membantu memastikan data yang dikirim antara client dan server tidak diubah oleh pihak lain selama proses komunikasi.

Cara Menggunakan SSH

Cara menggunakan SSH terbilang mudah. Linux dan macOS biasanya sudah menyediakan SSH Client, karena itu kamu bisa langsung membuka Terminal dengan mudah.

Sedangkan kalau kamu menggunakan Windows, kamu bisa menggunakan PowerShell atau Windows Terminal dengan OpenSSH.

Gunakan format berikut:

ssh user@ip-server 

Ganti user dengan username pada server dan ip-server dengan alamat IP server tujuan. Jika server menggunakan port selain 22, tambahkan opsi -p, misalnya:

ssh -p 2222 user@ip-server. 

Cara Install SSH Server

Kalau kamu menggunakan server Linux dan ingin bisa mengaksesnya melalui SSH, kamu perlu menginstal SSH Server terlebih dahulu. Caranya sedikit berbeda tergantung distro Linux yang digunakan.

1. Ubuntu dan Debian

Pada Ubuntu dan Debian, SSH Server bisa diinstal menggunakan package openssh-server.

sudo apt update
sudo apt install openssh-server


2. Rocky Linux dan CentOS

Untuk Rocky Linux dan CentOS, kamu bisa menggunakan dnf untuk menginstal SSH Server:

sudo dnf install openssh-server


3. Cek Status SSH

Setelah proses instalasi selesai, kamu bisa mengecek apakah SSH Server sudah berjalan menggunakan:

sudo systemctl status ssh 

Jika service SSH belum berjalan, gunakan:

sudo systemctl start ssh 

Untuk menjalankan ulang service SSH:

sudo systemctl restart ssh 

Agar SSH Server otomatis berjalan saat server dinyalakan:

sudo systemctl enable ssh 

Pada beberapa distro, terutama Rocky Linux dan CentOS, nama service SSH adalah sshd. Jadi, ganti ssh menjadi sshd pada command systemctl, misalnya:

sudo systemctl status sshd 

Kapan Sebaiknya Menggunakan SSH?

Kamu bisa mulai menggunakan SSH ketika butuh mengelola server dari jarak jauh, terutama pada environment berikut:

  • VPS (Virtual Private Server): mengelola aplikasi, service, database, dan konfigurasi sistem.
  • Dedicated Server: melakukan administrasi server fisik tanpa harus selalu berada di data center.
  • Cloud Server: mengakses instance untuk deployment, troubleshooting, dan maintenance.
  • Private Cloud: mengelola resource internal dengan akses yang lebih terkontrol.
  • Data Center: melakukan administrasi infrastruktur dari workstation administrator.

Selama server bisa dijangkau melalui jaringan dan SSH server dikonfigurasi dengan benar, administrator bisa melakukan banyak tugas tanpa akses fisik langsung.

Kesimpulan

SSH adalah protokol penting untuk mengakses dan mengelola server secara remote dengan koneksi yang aman. Dengan enkripsi, autentikasi, transfer file, dan tunneling, SSH membantu administrator menjaga keamanan infrastruktur.

Untuk kebutuhan server yang aman dan andal, kamu bisa memilih layanan VPS atau cloud server yang sudah menyediakan fitur SSH ini seperti pada CloudRaya. Dengan begitu, kamu bisa mengakses server kapan saja dan dari mana saja dengan lebih mudah. Daftar CloudRaya sekarang!

Okta Reyna Dwitanaya

Editor

Hi, aku Okta, copywriter di Wowrack dan CloudRaya dengan pengalaman menulis selama 5 tahun di industri teknologi. Aku suka mendalami topik cloud computing dan cybersecurity, serta membuat berbagai jenis konten mulai dari deskripsi produk, website copy, artikel, hingga studi kasus. Aku senang mengubah ide teknologi yang kompleks menjadi konten yang jelas dan mudah dibaca.

bg-footer
cloudraya-logo-1x

US Headquarter

12201 Tukwila International Blvd #100,
Tukwila, Washington 98168
United States of America

APAC Headquarter

Menara BCA 50th Floor Unit 4546
Jl. MH Thamrin No.1
Jakarta Pusat, 10310
Indonesia

logo-anab

Dapatkan Informasi dan Update Terkini

Kebijakan Situs | Kebijakan Privasi | Pengaturan Cookie

© 2026 CloudRaya dan afiliasinya. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Secret Link