Pernah dengar tentang Disaster Recovery Plan atau DRP? Jika kamu seorang pebisnis yang memanfaatkan teknologi digital, kamu wajib tau apa itu Disaster Recovery plan!
Kamu pasti sudah menyadari data sangat mudah hilang atau rusak. Hal ini banyak menjadi beban pikiran di kalangan pemilik bisnis. Kekhawatiran ini sangat beralasan.
Menurut data dari National Cyber Security Alliance, 60% perusahaan tanpa strategi keamanan data mengalami kebangkrutan kurang dari 6 bulan setelah menjadi sasaran serangan siber.
Di sini lah peran penting DRP. Disaster Recovery Plan terbukti efektif menjadi solusi keberlangsungan bisnis.
Dengan perencanaan yang matang dan eksekusi yang andal, kamu tidak perlu lagi khawatir ada gangguan yang mengganggu berjalannya bisnismu.
Tapi apa sebenarnya Disaster Recovery Plan ini dan perannya menjaga keberlangsungan bisnis? Simak sampai akhir artikel ini supaya kamu bisa langsung memastikan keamanan bisnismu!
Apa yang Dimaksud dengan DRP?

freepik.com
Disaster Recovery Plan atau juga biasa disebut DRP adalah suatu rencana terstruktur yang dirancang untuk merespons dan memulihkan bisnis setelah terjadi kendala besar, maupun kecil.
Penyebab dari kendala ini ada banyak, mulai dari bencana alam, kerusakan device, serangan siber, hingga yang paling sering terjadi yaitu, human error.
Tidak ada yang tahu kapan bencana akan terjadi atau kapan kita tidak sengaja meng-klik link yang mengandung malware.
Dengan adanya DRP, bisnis kamu jadi punya kesempatan pulih lebih cepat jika hal-hal yang tidak diinginkan itu terjadi.
Dengan begitu, bisnis kamu bisa meminimalisir kerugian akibat downtime, beroperasi seperti biasa lebih cepat, dan mingkatkan kepercayaan pelanggan.
Agar lebih jelasnya, yuk kita bahas lebih detail fungsi dari DRP ini.
Apa Saja Fungsi DRP?

freepik.com
DRP merupakan bagian dari strategi manajemen risiko sebuah perusahaan. DRP berfungsi untuk memastikan bahwa perusahaan siap menghadapi segala bencana atau kendala yang bisa terjadi. Fungsi DRP meliputi:
1. Menjaga Server Selalu Aktif
Server di dunia digital adalah ‘nyawa’ bagi sebuah infrastruktur. Matinya server disebut juga dengan downtime.
Downtime bisa diakibatkan berbagai hal seperti bencana alam, kebakaran, putusnya jaringan, atau kegagalan sistem.
Jika server sebuah perusahaan mati, operasional bisa melambat atau bahkan berhenti total. Downtime juga bisa berimbas pada berkurangnya kepercayaan hingga hilangnya pelanggan.
Jika sudah begitu, bisa dibayangkan berapa kerugian yang bisa ditanggung sebuah perusahaan akibat downtime.
Untuk mencegah kerugian tersebut, DRP berperan aktif dalam memastikan ketersediaan server selama 24/7.
Jika pun ada kendala, DRP akan secara otomatis membantu server aktif kembali, dengan mengaktifkan server yang sama maupun melakukan memanfaatkan server penggantinya.
Dengan begitu, kerugian bisnis bisa diminalisir baik secara finansial maupun reputasi.
Ketahui manajemen jaringan dengan mikrotik
2. Melindungi Data Perusahaan
Selain matinya server, ancaman lain yang bisa menimbulkan kerugian bagi perusahaan adalah kehilangan dan kerusakan data.
Ancaman ini bisa terjadi akibat hilang atau rusaknya device, serangan siber, atau kelalaian pengguna seperti tidak sengaja menghapus data atau mengakses situs tidak resmi yang mengandung malware.
Tanpa DRP, perusahaan akan kesusahan dalam mengakses data pentingnya kembali. Keamanan perusahaan hingga pelanggannya dipertaruhkan, karena data tersebut bisa mengandung informasi sensitif yang dapat disalahgunakan.
Strategi DRP yang mencakup sistem keamanan siber, backup, dan recovery, mampu meminimalisir kerugian ini.
Data perusahaan akan lebih sulit untuk diretas, dan dipulihkan dengan cepat dalam hitungan menit hingga detik kalau terlanjur hilang.
3. Menjamin Kepatuhan Sekaligus Kejelasan Tanggung Jawab Saat Krisis
Selain kendala akibat insiden yang tidak direncanakan, DRP juga membantu perusahaan secara administrasi dan pengambilan keputusan.
Dengan DRP perusahaan dapat selalu memastikan terpenuhinya regulasi yang berlaku di di industri seperti keuangan, kesehatan, dan energi (misalnya ISO 22301, HIPAA, GDPR).
Selain itu, DRP juga membantu perusahaan dalam menetapkan peran, jalur komunikasi, dan prosedur eskalasi saat terjadi insiden, sehingga pengambilan keputusan dilakukan secara sistematis.
Sehingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang teruji berdasar pada perencanaan dan tujuan perusahaan, dan bukan keputusan yang berdasarkan kepanikan.
Baca juga: Definisi Lengkap Disaster Recovery
5 Jenis DRP yang Sering Digunakan

freepik.com
DRP berperan secara signifikan dalam meningkatkan keberlangsungan sebuah bisnis.
Tapi untuk mendapatkan hasil yang maksimal, kamu perlu tahu betul jenis DRP mana yang tepat untuk diterapkan berdasarkan kebutuhan dan tujuan bisnismu.
5 jenis DRP berikut adalah jenis yang sering digunakan oleh perusahaan:
1. Backup dan Restore
Seperti namanya, DRP jenis ini bekerja dengan membuat salinan data untuk dibackup yang nantinya akan direstore ketika suatu insiden terjadi.
Kelebihan dari DRP ini adalah biaya yang terbilang terjangkau karena bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan budget perusahaan.
Kekurangan dari DRP ini adalah proses restore yang bisa memakan waktu lebih lama tergantung seberapa besar data yang perlu direstore.
Karenanya, backup dan restore ini cocok diterapkan untuk perusahaan kecil ke menengah yang mana tidak butuh pemulihan instan.
Baca juga: Cara Meningkatkan Efisiensi Backup Data
2. Cloud-Based Disaster Recovery
DRP jenis ini memanfaatkan cloud untuk menyimpan sistem dan data backup, serta proses recovery jarak jauh. Artinya, proses pemulihan DRP ini bisa dilakukan dari mana saja.
DRP ini memiliki kelebihan berupa skalabilitas tinggi, bisa diakses kapan saja dan dari mana saja, serta proses pemulihan yang cepat.
Biasanya cloud-based disaster recovery ini disediakan oleh penyedia layanan cloud. Karena keuntungan yang dimilikinya, jenis ini cocok digunakan oleh perusahaan yang menerapkan sistem hybrid atau full remote.
3. Virtualized Disaster Recovery
Virtualized Disaster Recovery ini menggunakan virtual machine (VM) untuk membuat pencadangan dan pemulihan sistem dengan cepat.
Meskipun terlihat mirip dengan cloud-based DRP, Virtualized Disaster Recovery lebih memanfaatkan teknologi virtual machine yang bisa dideploy di server lokal dan tidak harus menggunakan layanan cloud provider.
Karena jenis ini di-host pada server lokal maupun data center pribadi, proses pemulihannya pun bisa dilakukan lebih cepat dan diuji lebih mudah.
Cocok untuk perusahaan yang telah menerapkan teknologi virtualisasi dan memiliki tim IT yang andal.
4. Hot Site
Hot site merupakan jenis pendekatan DRP yang menyediakan lokasi backup aktif dengan sistem dan data yang selalu sinkron dengan sistem utama secara real-time.
Dengan sistemnya yang real-time, Hot site bisa memberikan kelebihan berupa risiko downtime yang sangat minim.
Hanya saja, jenis DRP ini memiliki biaya yang relatif tinggi. Dengan kemampuannya, jenis ini cocok untuk bisnis di industri kritikal seperti finansial dan kesehatan.
5. Managed DRP Services
Managed DRP services adalah layanan DRP yang disediakan secara khusus oleh penyedia layanan pihak ketiga.
Layanan ini memberikan bantuan penggunanya untuk mengatur dan mengelola DRP secara menyeluruh.
Jenis Disaster Recovery Plan ini mengizinkan kamu punya sumber daya yang sangat besar untuk dimanfaatkan, SLA, dan dukungan dari tim IT yang andal.
Lengkapnya manfaat yang ditawarkan membuatnya cocok untuk perusahaan yang ingin fokus pada bisnis intinya, tanpa perlu pusing memikirkan keamanan datanya.
Supaya lebih mudah dimengerti, kamu bisa bandingkan melalui tabel berikut:
| No | Jenis DRP | Deskripsi Singkat | Kelebihan (+) | Kekurangan (-) | Cocok Untuk |
| 1 | Backup & Restore | Membuat salinan data, lalu direstore saat ada insiden. | Biaya terjangkau, fleksibel sesuai kebutuhan. | Proses recover lama tergantung besaran data. | Perusahaan kecil hingga menengah. |
| 2 | Cloud-Based DRP | Menyimpan backup di cloud, dan melakukan recovery secara remote. | Skalabilitas tinggi, bisa diakses dari mana saja, pemulihan cepat. | Bergantung pada koneksi internet dan penyedia cloud. | Perusahaan hybrid atau full remote. |
| 3 | Virtualized DRP | Menggunakan virtual machine (VM) untuk backup dan recover. Bisa di server lokal atau data center pribadi. | Recovery cepat, mudah diuji, tidak harus pakai cloud. | Butuh infrastruktur sendiri dan tim IT yang andal. | Perusahaan dengan teknologi virtualisasi dan tim IT internal. |
| 4 | Hot Site | Lokasi backup aktif dengan sistem dan data yang sinkron secara real-time dengan sistem utama. | Downtime sangat minim, sistem langsung siap pakai. | Biaya sangat tinggi. | Industri kritikal seperti keuangan dan kesehatan. |
| 5 | Managed DRP Services | Menggunakan penyedia pihak ketiga untuk mengatur dan menjalankan DRP secara menyeluruh. | Dapat bantuan ahli, dukungan SLA, tidak perlu bangun sendiri. | Tergantung vendor, perlu budget berkelanjutan. | Perusahaan yang ingin fokus ke bisnis inti tanpa repot urus DRP. |
Cara Membuat Disaster Recovery Plan

freepik.com
Sekarang, kamu sudah tahu sepenting apa DRP ini untuk keberlangsungan bisnis dan apa saja jenisnya yang bisa kamu manfaatkan.
Kalau kamu merasa mulai perlu mengimplementasikan strategi ini untuk bisnismu, kamu perlu menyimak apa saja langkahnya dalam membuat DRP.
1. Tentukan Kebutuhan Bisnis & Struktur Sistem
Hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah menentukan aset atau data apa saja yang perlu dilindungi.
Setelah itu, tentukan tingkat prioritas per data yang dilindungi, dari yang paling penting sampai ke data yang bisa dikompromikan.
Kemudian, kamu juga perlu menentukan RTO (Recovery Time Objective) dan juga RPO (Recovery Point Objective) per data.
Misalnya, untuk sistem penjualan online: RTO = 1 jam, dan RPO = 15 menit. Sedangkan untuk sistem internal HR: RTO = 1 hari dan RPO = 1 jam.
2. Diskusikan Perencanaan dengan Stakeholder
Stakeholder yang dimaksud di sini adalah rangkaian manajerial, tim IT, operasional, dan pihak terkait lainnya.
Mereka bisa memberikan dukungan berupa informasi teknis, prioritas, hingga ekspektasi dari tiap pihak.
Dengan begitu, kamu bisa lebih mematangkan perencanaanmu dan meminimalisir terjadinya miskomunikasi dan mispersepsi di antara stakeholder yang ada.
3. Bentuk Tim DRP
Selanjutnya kamu perlu menentukan tim DRPmu. Tim ini akan bertanggung jawab untuk menyusun, mengelola, dan mengeksekusi DRP. Buatlah struktur tim dengan peran yang jelas.
Tim yang kamu buat harus memiliki minimal Koordinator DRP, tim IT yang akan menghandle hal teknis, tim operasional bisnis di kala insiden terjadi, tim komunikasi untuk memastikan info penting tersampaikan dengan baik ke internal maupun eksternal, dan yang terakhir liaison vendor untuk menghubungi penyedia layanan jika melibatkan pihak ketiga.
4. Bangun Sistem Pencadangan (Backup)
Backup adalah langkah dasar yang perlu kamu lakukan untuk menerapkan DRP. Pastikan kamu melakukan backup data dan sistem secara rutin, baik secara lokal maupun cloud.
Memiliki lebih dari satu backup di tempat yang berbeda bisa meningkatkan kesuksesan DRP kamu.
Kamu juga perlu melakukan uji backup untuk memastikan data yang sudah berhasil di-backup bisa dipulihkan dengan lancar tanpa kendala.
5. Pilih Jenis dan Strategi DRP
Selanjutnya, kamu perlu menentukan pendekatan atau metode apa yang ingin kamu gunakan, seperti cloud-based, on-premise, atau hybrid.
Kamu juga perlu memutuskan apakah kamu akan menggunakan vendor atau pihak ketiga (layanan managed DRP) atau dilakukan oleh tim IT sendiri.
Kesimpulan
Nah, dari artikel ini apakah sudah terbayang pentingnya DRP dan banyaknya manfaat yang ditawarkannya?
Intinya, DRP bekerja dengan membuat salinan data dan sistem bisnis kamu, baik secara lokal (on-premise) maupun di data center menggunakan pihak ketiga.
Dengan begitu, bisnis kamu bisa jadi lebih sustainable dalam menghadapi berbagai insiden yang mungkin terjadi.
Kamu bisa memanfaatkan sumber daya dan tim IT yang sudah kamu miliki, atau memanfaatkan layanan dari pihak ketiga penyedia layanan cloud yang menyediakan layanan backup dan VM seperti CloudRaya.
Kalau kamu mulai penasaran dengan DRP, kamu bisa mulai eksplor pelan-pelan, lewat layanan CloudRaya. Yuk, eksplor sekarang di sini!




