{"id":39225,"date":"2026-08-20T15:05:11","date_gmt":"2026-08-20T08:05:11","guid":{"rendered":"https:\/\/cloudraya.com\/?p=39225"},"modified":"2026-08-20T15:48:47","modified_gmt":"2026-08-20T08:48:47","slug":"docker-adalah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cloudraya.com\/id\/blog\/docker-adalah\/","title":{"rendered":"Apa Itu Docker? Cara Kerja dan Bedanya dengan Virtual Machine &#038; Kubernetes"},"content":{"rendered":"<p><span data-contrast=\"auto\">Banyak yang <\/span><span data-contrast=\"auto\">mengira<\/span><span data-contrast=\"auto\"> kalau Docker adalah pesaing atau sejenis dengan Virtual Machine atau Kubernetes. Padahal, mereka punya fungsi yang berbeda.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Singkatnya, Docker adalah salah satu teknologi yang membantu para developer membuat, menguji, dan menjalankan aplikasi dengan lebih efisien.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Tapi, bagaimana cara kerjanya dan apa bedanya dengan Virtual Machine maupun Kubernetes? Yuk, bahas satu per satu.<\/span> <\/p>\n<h2 aria-level=&quot;2&quot; id=\"apa-itu-docker\"><b><span data-contrast=\"none\">Apa Itu Docker?<\/span><\/b> <\/h2>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Docker adalah platform yang memungkinkan developer membangun, mengemas, dan menjalankan aplikasi menggunakan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Dengan Docker, aplikasi beserta <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">dependency, library, runtime<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, dan konfigurasi yang dibutuhkan dapat dikemas ke dalam sebuah Docker Image. Image tersebut kemudian digunakan untuk membuat container sebagai lingkungan terisolasi untuk menjalankan aplikasi<\/span> <\/p>\n<p><i><span data-contrast=\"auto\">Container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> ini bertugas sebagai ruangan terisolasi untuk menjalankan dan mengelola aplikasi. Di dalamnya sudah ada semua yang diperlukan aplikasi agar bisa berjalan seperti OS, storage, dan lain sebagainya.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Jika diperumpamakan, Docker ini seperti sebuah kotak paket saat kamu membeli lemari rakit dari <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">e-commerce<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Selain ada bagian-bagian lemari, di dalamnya juga sudah ada berbagai alat yang diperlukan untuk merakit lemari itu seperti baut, engsel, buku petunjuk, bahkan alat bantu untuk menggantikan obeng. Jadi, kamu bisa merakit lemari di manapun kamu berada tanpa perlu peralatan tambahan. <\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Docker bekerja dengan cara yang mirip. Seluruh kebutuhan aplikasi mulai dari kode, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">library<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">dependency<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, hingga konfigurasi dikemas ke dalam sebuah <\/span><a href=\"https:\/\/cloudraya.com\/id\/feature\/container-registry\/\"><i><span data-contrast=\"none\">container<\/span><\/i><\/a><span data-contrast=\"auto\">. Hasilnya, aplikasi bisa dijalankan secara konsisten di berbagai <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">environment<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> tanpa bergantung pada konfigurasi server.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Saat ini, Docker banyak digunakan oleh developer independen, startup, hingga enterprise.<\/span> <\/p>\n<h2 aria-level=&quot;2&quot; id=\"fungsi-docker\"><b><span data-contrast=\"none\">Fungsi Docker<\/span><\/b> <\/h2>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Fungsi utama Docker adalah mempermudah proses developer dalam pengembangan aplikasi hingga proses deployment. Tapi, jika dijabarkan maka ada beberapa fungsi Docker yang perlu kamu tahu:<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"menjalankan-aplikasi-di-berbagai-environment\"><span data-contrast=\"none\">Menjalankan Aplikasi di Berbagai Environment<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Kamu pernah mengalami aplikasi yang kamu buat berjalan normal di laptop, tapi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">error<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> saat dipindahkan ke server produksi? Biasanya itu karena versi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">library<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> atau <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">dependency<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> berbeda.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Salah satu fungsi Docker adalah mengatasi masalah ini. Docker mengemas seluruh kebutuhan aplikasi ke dalam <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Sehingga, aplikasi akan berjalan menggunakan konfigurasi yang sama, baik saat diuji di komputer lokal, server staging, maupun lingkungan produksi.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Dengan begitu performa aplikasi jadi lebih konsisten dan minim adanya bug yang diakibatkan konfigurasi yang tidak sesuai.<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"untuk-mencoba-software-baru\"><span data-contrast=\"none\">Untuk Mencoba Software Baru<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Docker membantu kamu menjalankan software yang ingin kamu coba di dalam <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang terisolasi. Jika ternyata software tidak dibutuhkan lagi, kamu cukup menghapus <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> tanpa meninggalkan sisa konfigurasi di sistem utama.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Cara ini lebih aman terutama bagi developer yang sering mencoba framework, database, atau tools baru.<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"mempermudah-deployment-aplikasi\"><span data-contrast=\"none\">Mempermudah Deployment Aplikasi<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sedikit perbedaan konfigurasi saja bisa menyebabkan aplikasi gagal berjalan.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Untuk tantangan ini, Docker adalah salah satu solusi yang paling banyak digunakan. Seluruh <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">dependency<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> sudah dikemas di dalam image, dan proses <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">deploy<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> jadi lebih sederhana dan konsisten.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sebagai developer, kamu tidak perlu lagi menginstal <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">dependency<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> satu per satu di server tujuan. Cukup menjalankan image yang sama, maka aplikasi akan berjalan sesuai dengan lingkungan saat pertama kali dibuat.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Metode ini juga mempercepat proses <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Continuous Integration<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Continuous Deployment<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> (CI\/CD), yang saat ini banyak diterapkan dalam praktik DevOps.<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"membantu-proses-debugging\"><span data-contrast=\"none\">Membantu Proses Debugging<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Ketika ada masalah, developer sering kesulitan menentukan apakah sumber <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">error<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> berasal dari kode, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">dependency<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, atau konfigurasi server.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Dengan Docker, proses debugging jadi lebih mudah karena developer bisa membuat ulang <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">environment<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang sama persis dengan lingkungan produksi. Masalah yang muncul juga bisa direplikasi dengan lebih akurat sehingga penyebabnya lebih cepat ditemukan.<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"untuk-otomatisasi-development\"><span data-contrast=\"none\">Untuk Otomatisasi Development<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Docker berperan besar dalam mengotomatisasi berbagai proses pengembangan aplikasi.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Misalnya, saat ada anggota tim baru yang bergabung dalam proyek. Tanpa Docker, mereka mungkin membutuhkan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari hanya untuk memasang <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">dependency<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dan melakukan konfigurasi.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sebaliknya, dengan Docker, seluruh <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">environment<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> sudah terdokumentasi melalui file konfigurasi seperti Dockerfile dan docker-compose.yml (atau <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Compose<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">). Anggota tim cukup menjalankan beberapa perintah sederhana untuk mendapatkan lingkungan kerja yang identik dengan developer lainnya.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Hasilnya, proses kolaborasi jadi lebih cepat, lebih konsisten, dan minim kesalahan konfigurasi.<\/span> <\/p>\n<h2 aria-level=&quot;2&quot; id=\"komponen-docker\"><b><span data-contrast=\"none\">Komponen Docker<\/span><\/b> <\/h2>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-39223 size-large lazyload\" data-src=\"https:\/\/assets.wowrack-web-cloud.delivery.cloudraya.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Infographic-Docker-1024x731.jpg\" alt=\"Infographic Docker\" width=\"1024\" height=\"731\" data-srcset=\"https:\/\/assets.wowrack-web-cloud.delivery.cloudraya.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Infographic-Docker-1024x731.jpg 1024w, https:\/\/assets.wowrack-web-cloud.delivery.cloudraya.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Infographic-Docker-300x214.jpg 300w, https:\/\/assets.wowrack-web-cloud.delivery.cloudraya.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Infographic-Docker-768x548.jpg 768w, https:\/\/assets.wowrack-web-cloud.delivery.cloudraya.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Infographic-Docker-1536x1096.jpg 1536w, https:\/\/assets.wowrack-web-cloud.delivery.cloudraya.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Infographic-Docker-2048x1461.jpg 2048w\" data-sizes=\"auto\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 1024px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1024\/731;\" data-original-sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><noscript><img decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-39223 size-large\" src=\"https:\/\/assets.wowrack-web-cloud.delivery.cloudraya.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Infographic-Docker-1024x731.jpg\" alt=\"Infographic Docker\" width=\"1024\" height=\"731\" srcset=\"https:\/\/assets.wowrack-web-cloud.delivery.cloudraya.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Infographic-Docker-1024x731.jpg 1024w, https:\/\/assets.wowrack-web-cloud.delivery.cloudraya.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Infographic-Docker-300x214.jpg 300w, https:\/\/assets.wowrack-web-cloud.delivery.cloudraya.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Infographic-Docker-768x548.jpg 768w, https:\/\/assets.wowrack-web-cloud.delivery.cloudraya.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Infographic-Docker-1536x1096.jpg 1536w, https:\/\/assets.wowrack-web-cloud.delivery.cloudraya.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Infographic-Docker-2048x1461.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/noscript><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Setelah mengetahui fungsinya, sekarang saatnya mengintip komponen apa saja yang ada di balik layar dan bagaimana komponen itu bekerja.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Seperti yang sudah disebutkan, Docker adalah platform yang menggunakan teknologi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> untuk menjalankan aplikasi secara terisolasi. Agar proses tersebut berjalan dengan baik, Docker punya beberapa komponen utama yang saling bekerja sama.<\/span> <\/p>\n<h3 id=\"1-container\"><i><span data-contrast=\"none\">1. Container<\/span><\/i> <\/h3>\n<p><i><span data-contrast=\"auto\">Container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> merupakan komponen utama pada Docker. Di dalamnya terdapat aplikasi beserta seluruh <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">dependency<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang dibutuhkan agar bisa berjalan dengan baik.<\/span> <\/p>\n<h3 id=\"2-docker-image\"><span data-contrast=\"none\">2. Docker <\/span><i><span data-contrast=\"none\">Image<\/span><\/i> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Supaya <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> bisa berjalan, Docker memerlukan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">image<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, yaitu template yang berisi seluruh kebutuhan aplikasi, seperti source code, runtime, library, dependency, dan konfigurasi. Dari satu <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">image<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, kamu bisa membuat banyak <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dengan lingkungan yang identik, jadi proses <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">deployment<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> lebih konsisten.<\/span> <\/p>\n<h3 id=\"3-docker-client\"><span data-contrast=\"none\">3. Docker <\/span><i><span data-contrast=\"none\">Client<\/span><\/i> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Docker <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Client<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> berfungsi sebagai penghubung antara pengguna dan mesin Docker. Setiap kali kamu menjalankan perintah seperti docker <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">build<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, docker <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">run<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, atau docker <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">pull<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, Docker <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Client<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> akan meneruskan instruksi tersebut ke Docker Daemon untuk diproses.<\/span> <\/p>\n<h3 id=\"4-docker-server-docker-daemon\"><span data-contrast=\"none\">4. Docker Server (Docker Daemon)<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Docker Daemon merupakan komponen inti yang bertugas menjalankan seluruh operasi Docker. Daemon bertugas membuat <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">image<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, menjalankan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, mengelola jaringan, hingga mengatur volume penyimpanan. Semua perintah yang dikirimkan melalui Docker Client akan diproses oleh layanan ini.<\/span> <\/p>\n<h3 id=\"5-docker-registry-docker-hub\"><span data-contrast=\"none\">5. Docker Registry (Docker Hub)<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Docker Registry adalah tempat penyimpanan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">image<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> Docker. Registry bisa bersifat publik maupun privat. Developer cukup mengunduh image yang dibutuhkan, lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan aplikasi. Dengan begitu, proses pembuatan aplikasi jadi jauh lebih cepat.<\/span> <\/p>\n<h2 aria-level=&quot;2&quot; id=\"kelebihan-docker\"><b><span data-contrast=\"none\">Kelebihan Docker<\/span><\/b> <\/h2>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Saat ini, Docker menjadi salah satu teknologi yang banyak diadopsi dalam pengembangan aplikasi modern. Bahkan, laporan Docker tahun 2025 menunjukkan bahwa <\/span><a href=\"https:\/\/www.docker.com\/blog\/2025-docker-state-of-app-dev\/?\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span data-contrast=\"none\">92%<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\"> responden di industri IT\/SaaS telah menggunakan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> sebagai bagian dari workflow mereka. <\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Berikut kelebihan-kelebihan Docker yang membuat banyak developer menggunakannya:<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"lebih-ringan-dibanding-virtual-machine\"><span data-contrast=\"none\">Lebih Ringan Dibanding Virtual Machine<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Docker bekerja dengan menggunakan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">kernel<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dari host <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">operating system<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Berkat metode ini, satu server bisa menjalankan lebih banyak <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">workload<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dibandingkan jika seluruhnya menggunakan Virtual Machine.<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"deployment-lebih-cepat\"><span data-contrast=\"none\">Deployment Lebih Cepat<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Docker bisa di-deploy lebih cepat karena punya <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">image<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang sudah berisi seluruh <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">dependency<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang dibutuhkan aplikasi. Karena itu, kamu tidak perlu lagi melakukan proses konfigurasi yang panjang setiap kali dipindahkan ke server baru.<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"mendukung-berbagai-sistem-operasi\"><span data-contrast=\"none\">Mendukung Berbagai Sistem Operasi<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Kini Docker juga bisa digunakan di Windows maupun macOS melalui Docker Desktop. Fleksibilitas ini membuat kolaborasi lintas tim jadi lebih mudah, terutama pada proyek berskala besar.<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"komunitas-yang-besar\"><span data-contrast=\"none\">Komunitas yang Besar<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Karena sifatnya yang <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">open-source, <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">Docker punya komunitas dan ekosistem yang besar. Saat ini, tersedia jutaan image di Docker Hub, dokumentasi resmi, forum komunitas, sampai tutorial dari berbagai developer di seluruh dunia. Jadi, kalau kamu menemukan kendala, kemungkinan besar solusi yang kamu cari sudah pernah dibahas oleh pengguna lain.<\/span> <\/p>\n<h2 aria-level=&quot;2&quot; id=\"kekurangan-docker\"><b><span data-contrast=\"none\">Kekurangan Docker<\/span><\/b> <\/h2>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Dibalik semua kelebihannya, Docker juga punya kekurangan yang perlu kamu pertimbangkan sebelum menggunakannya:<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"kurang-optimal-untuk-gui\"><span data-contrast=\"none\">Kurang Optimal untuk GUI<\/span> <\/h3>\n<p><i><span data-contrast=\"auto\">Container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> pada dasarnya dirancang untuk menjalankan aplikasi berbasis layanan (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">service<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">) atau <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">command line<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Walaupun aplikasi dengan antarmuka grafis (GUI) tetap bisa dijalankan, proses konfigurasinya cenderung lebih kompleks dibandingkan menjalankannya secara langsung di sistem operasi. <\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"kurva-belajar-yang-cukup-tinggi\"><span data-contrast=\"none\">Kurva Belajar yang Cukup Tinggi<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Di awal penggunaan, Docker sedikit terlihat kompleks bagi pemula. Banyak konsep yang perlu dipahami, seperti <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">image<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, volume, network, Dockerfile, hingga Docker <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Compose<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Tapi setelah memahami dasar-dasarnya, proses pengelolaan aplikasi justru jadi jauh lebih sederhana.<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"risiko-keamanan-pada-host\"><span data-contrast=\"none\">Risiko Keamanan pada Host<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Perlu dipahami bahwa Docker adalah teknologi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang berbagi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">kernel<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dengan host <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">operating system<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Karena menggunakan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">kernel<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang sama, celah keamanan pada host bisa memengaruhi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> kalau tidak dikonfigurasi dengan benar.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Karenanya, praktik keamanan seperti memperbarui <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">image<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> secara berkala, membatasi hak akses <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, dan menggunakan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">image<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dari sumber tepercaya adalah hal yang sangat penting.<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"performa-native-masih-lebih-cepat\"><span data-contrast=\"none\">Performa Native Masih Lebih Cepat<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Walaupun overhead Docker relatif kecil, performa aplikasi yang berjalan langsung di sistem operasi (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">native<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">) masih sedikit lebih tinggi untuk kebutuhan tertentu. Perbedaan ini umumnya tidak terlalu signifikan pada aplikasi web modern tapi cukup berpengaruh bagi aplikasi yang memerlukan performa tinggi.<\/span> <\/p>\n<h2 aria-level=&quot;2&quot; id=\"docker-vs-virtual-machine\"><b><span data-contrast=\"none\">Docker vs Virtual Machine<\/span><\/b> <\/h2>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sering dianggap teknologi yang sama, padahal Docker dan <\/span><a href=\"https:\/\/cloudraya.com\/id\/feature\/virtual-machine\/\"><span data-contrast=\"none\">Virtual Machine (VM)<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\"> punya metode yang berbeda dalam menjalankan aplikasi.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sederhananya, Docker adalah platform <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">containerization<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, sedangkan Virtual Machine merupakan teknologi virtualisasi yang menjalankan sistem operasi secara penuh di atas <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">hypervisor<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Berikut perbedaannya.<\/span> <\/p>\n<table data-tablestyle=\"MsoTableGrid\" data-tablelook=\"1184\" aria-rowcount=\"6\" aria-colcount=\"3\">\n<tbody>\n<tr aria-rowindex=\"1\">\n<td data-celllook=\"0\"><b><span data-contrast=\"auto\">Aspek<\/span><\/b> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><b><span data-contrast=\"auto\">Docker<\/span><\/b> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><b><span data-contrast=\"auto\">Virtual Machine<\/span><\/b> <\/td>\n<\/tr>\n<tr aria-rowindex=\"2\">\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Arsitektur<\/span> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Menggunakan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang berbagi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">kernel<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> host<\/span> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Menjalankan guest operating system secara penuh<\/span> <\/td>\n<\/tr>\n<tr aria-rowindex=\"3\">\n<td data-celllook=\"0\"><i><span data-contrast=\"auto\">Resource<\/span><\/i> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Lebih hemat CPU, RAM, dan storage<\/span> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Membutuhkan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">resource<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> lebih besar<\/span> <\/td>\n<\/tr>\n<tr aria-rowindex=\"4\">\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Startup<\/span> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Hitungan detik<\/span> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Bisa memakan waktu beberapa menit<\/span> <\/td>\n<\/tr>\n<tr aria-rowindex=\"5\">\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Isolasi<\/span> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Tinggi, tetapi berbagi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">kernel<\/span><\/i> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Sangat tinggi karena OS terpisah<\/span> <\/td>\n<\/tr>\n<tr aria-rowindex=\"6\">\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Skalabilitas<\/span> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Sangat mudah diperbanyak<\/span> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Lebih lambat untuk diskalakan<\/span> <\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"perbedaan-arsitektur\"><span data-contrast=\"none\">Perbedaan Arsitektur<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Perbedaan paling mendasar terletak pada arsitekturnya. Virtual Machine membutuhkan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">hypervisor <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/cloudraya.com\/id\/blog\/kvm\/\"><span data-contrast=\"none\">(KVM)<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\"> untuk menjalankan beberapa OS sekaligus dalam satu server fisik. Setiap VM memiliki <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">kernel<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dan operating system sendiri.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sedangkan, Docker adalah platform yang menjalankan beberapa <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> di atas <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">kernel<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> host yang sama. Karena tidak perlu memuat operating system lengkap, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> jadi jauh lebih ringan.<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"perbedaan-resource\"><span data-contrast=\"none\">Perbedaan <\/span><i><span data-contrast=\"none\">Resource<\/span><\/i> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Karena setiap Virtual Machine punya OS sendiri, kebutuhan RAM, CPU, dan storage akan meningkat seiring bertambahnya jumlah VM. Sedangkan, Docker jauh lebih efisien karena <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> hanya membawa aplikasi beserta <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">dependency<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang diperlukan.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Jika server memiliki <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">resource<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> terbatas, Docker biasanya mampu menjalankan lebih banyak <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">workload<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dibandingkan Virtual Machine (<\/span><a href=\"https:\/\/cloudraya.com\/id\/produk\/vps-indonesia-murah\/\"><span data-contrast=\"none\">VPS<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\">).<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"performa\"><span data-contrast=\"none\">Performa<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Di banyak kasus, Docker punya waktu <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">startup<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang lebih cepat dan konsumsi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">resource<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang lebih rendah.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Tapi, Virtual Machine tetap unggul untuk kebutuhan yang memerlukan isolasi tingkat tinggi, misalnya ketika menjalankan beberapa OS berbeda dalam satu infrastruktur.<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"kapan-perlu-menggunakan-docker\"><span data-contrast=\"none\">Kapan Perlu Menggunakan Docker?<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Kamu bisa mulai mempertimbangkan penggunaan Docker kalau kamu butuh:<\/span> <\/p>\n<ul>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Membangun aplikasi berbasis microservices. <\/span> <\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Mempercepat proses development dan deployment. <\/span> <\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Menjalankan pipeline DevOps atau CI\/CD. <\/span> <\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Mengoptimalkan penggunaan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">resource<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> server. <\/span> <\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Menjamin konsistensi environment dari development hingga production. <\/span> <\/li>\n<\/ul>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"kapan-perlu-menggunakan-virtual-machine\"><span data-contrast=\"none\">Kapan Perlu Menggunakan Virtual Machine?<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sedangkan, kamu perlu memilih Virtual Machine daripada Docker kalau:<\/span> <\/p>\n<ul>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Membutuhkan isolasi sistem operasi yang benar-benar terpisah. <\/span> <\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Menjalankan aplikasi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">legacy<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. <\/span> <\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Menggunakan beberapa OS berbeda dalam satu server. <\/span> <\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Punya kebutuhan keamanan yang lebih ketat pada level sistem operasi. <\/span> <\/li>\n<\/ul>\n<h2 aria-level=&quot;2&quot; id=\"docker-vs-kubernetes\"><b><span data-contrast=\"none\">Docker vs Kubernetes<\/span><\/b> <\/h2>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Saat mulai mempelajari <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, banyak orang juga menemukan Kubernetes. Tidak sedikit yang mengira keduanya saling menggantikan, padahal fungsinya berbeda.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Jika dijabarkan, Docker adalah alat untuk membuat dan menjalankan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, sedangkan Kubernetes digunakan untuk mengelola banyak <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dalam skala besar.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Supaya lebih mudah dipahami, bayangkan Docker sebagai truk pengangkut barang, sedangkan Kubernetes adalah sistem logistik yang mengatur ratusan bahkan ribuan truk agar semuanya berjalan secara efisien.<\/span> <\/p>\n<table data-tablestyle=\"MsoTableGrid\" data-tablelook=\"1184\" aria-rowcount=\"6\" aria-colcount=\"3\">\n<tbody>\n<tr aria-rowindex=\"1\">\n<td data-celllook=\"0\"><b><span data-contrast=\"auto\">Aspek<\/span><\/b> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><b><span data-contrast=\"auto\">Docker<\/span><\/b> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><b><span data-contrast=\"auto\">Kubernetes<\/span><\/b> <\/td>\n<\/tr>\n<tr aria-rowindex=\"2\">\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Fungsi utama<\/span> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Membuat dan menjalankan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Mengelola banyak <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i> <\/td>\n<\/tr>\n<tr aria-rowindex=\"3\">\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Skala<\/span> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Kecil hingga menengah<\/span> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Menengah hingga <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">enterprise<\/span><\/i> <\/td>\n<\/tr>\n<tr aria-rowindex=\"4\">\n<td data-celllook=\"0\"><i><span data-contrast=\"auto\">Deployment<\/span><\/i> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Manual atau sederhana<\/span> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Otomatis dengan orkestrasi<\/span> <\/td>\n<\/tr>\n<tr aria-rowindex=\"5\">\n<td data-celllook=\"0\"><i><span data-contrast=\"auto\">Auto Scaling<\/span><\/i> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Terbatas<\/span> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Ya<\/span> <\/td>\n<\/tr>\n<tr aria-rowindex=\"6\">\n<td data-celllook=\"0\"><i><span data-contrast=\"auto\">Self-Healing<\/span><\/i> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Tidak<\/span> <\/td>\n<td data-celllook=\"0\"><span data-contrast=\"auto\">Ya<\/span> <\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"perbedaan-arsitektur\"><span data-contrast=\"none\">Perbedaan Arsitektur<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Docker bekerja pada level <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Fungsi utamanya adalah membangun <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">image<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, menjalankan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, dan mengelola <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">lifecycle<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> aplikasi.<\/span> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sebaliknya, Kubernetes berada satu tingkat di atas Docker. <\/span><a href=\"https:\/\/cloudraya.com\/id\/feature\/kuberaya\/\"><span data-contrast=\"none\">Kubernetes <\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\">mengatur bagaimana <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dijalankan di banyak server, termasuk penjadwalan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">workload<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, <\/span><a href=\"https:\/\/cloudraya.com\/id\/feature\/load-balancer\/\"><i><span data-contrast=\"none\">load balancing<\/span><\/i><\/a><span data-contrast=\"auto\">, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">monitoring<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, sampai proses <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">recovery<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> otomatis ketika terjadi kegagalan.<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"perbedaan-resource\"><span data-contrast=\"none\">Perbedaan <\/span><i><span data-contrast=\"none\">Resource<\/span><\/i> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Untuk proyek kecil, Docker bisa berjalan dengan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">resource<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang relatif ringan. Sebaliknya, Kubernetes butuh komponen tambahan seperti <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">control plane<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">scheduler<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, API server, dan berbagai layanan lain. Akibatnya, kebutuhan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">resource<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> juga jadi lebih besar.<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"performa\"><span data-contrast=\"none\">Performa<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Docker unggul karena konfigurasinya yang simpel dan proses implementasi yang cepat. Sementara itu, Kubernetes memberikan keunggulan dalam pengelolaan aplikasi berskala besar yang membutuhkan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">high availability<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">auto scaling<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">rolling update<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, dan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">self-healing<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">.<\/span> <\/p>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"kapan-perlu-menggunakan-docker\"><span data-contrast=\"none\">Kapan Perlu Menggunakan Docker?<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Kamu perlu menggunakan Docker jika:<\/span> <\/p>\n<ul>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Masih mengembangkan aplikasi dalam skala kecil hingga menengah. <\/span> <\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Baru belajar <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">containerization<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. <\/span> <\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Membutuhkan proses deployment yang cepat. <\/span> <\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Menjalankan aplikasi di satu atau beberapa server. <\/span> <\/li>\n<\/ul>\n<h3 aria-level=&quot;3&quot; id=\"kapan-perlu-menggunakan-kubernetes\"><span data-contrast=\"none\">Kapan Perlu Menggunakan Kubernetes?<\/span> <\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sedangkan, kamu lebih cocok menggunakan Kubernetes kalau:<\/span> <\/p>\n<ul>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Mengelola ratusan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">container<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> sekaligus. <\/span> <\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Membangun aplikasi berbasis microservices dalam skala besar. <\/span> <\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Membutuhkan high availability. <\/span> <\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Memerlukan auto scaling dan rolling update. <\/span> <\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Memiliki banyak node atau cluster. <\/span> <\/li>\n<\/ul>\n<h2 aria-level=&quot;2&quot; id=\"kesimpulan\"><b><span data-contrast=\"none\">Kesimpulan<\/span><\/b> <\/h2>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Docker adalah teknologi yang mempermudah proses <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">development<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, mengemas, dan menjalankan aplikasi secara konsisten di berbagai <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">environment<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dengan metode <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">containerization.<\/span><\/i> <\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Kalau kamu sedang membangun aplikasi modern atau mulai menerapkan praktik DevOps di perusahaan, kamu bisa mulai mencoba menggunakan Docker agar prosesnya lebih cepat dan efisien.<\/span> <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak yang mengira kalau Docker adalah pesaing atau sejenis dengan Virtual Machine atau Kubernetes. Padahal, mereka punya fungsi yang berbeda. Singkatnya, Docker adalah salah satu teknologi yang membantu para developer membuat, menguji, dan menjalankan aplikasi dengan lebih efisien. Tapi, bagaimana cara kerjanya dan apa bedanya dengan Virtual Machine maupun Kubernetes? Yuk, bahas satu per satu. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":39198,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"inline_featured_image":false,"footnotes":""},"categories":[143],"tags":[],"class_list":["post-39225","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cloud-insight-id","post-wrapper"],"acf":{"reading_time":"","featured_article":false},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cloudraya.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39225","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cloudraya.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cloudraya.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cloudraya.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cloudraya.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39225"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/cloudraya.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39225\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":39237,"href":"https:\/\/cloudraya.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39225\/revisions\/39237"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cloudraya.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39198"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cloudraya.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39225"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cloudraya.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39225"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cloudraya.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39225"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}